Munculnya noda jamur yang di sudut plafon atau lapisan cat yang mulai rontok bukan sekadar masalah estetika yang merusak pemandangan. Ruangan atau kamar juga menjadi bau apek. Sebelum terburu-buru mengambil kuas cat untuk menutupinya, penting untuk menyadari bahwa bercak hitam dan dinding yang berkeringat adalah hasil dari proses teknis yang terjadi di balik permukaan tembok mulai dari sirkulasi udara yang macet hingga kegagalan material dalam membendung uap air.
Berikut 4 penyebab utama dinding kamar menjadi lembab dan berjamur. Memahami penyebab akan membantu untuk menentukan solusi dan membasmi akar permasalahan dinding yang berjamur yang paling tepat dan permanen.
Kondensasi merupakan penyebab yang paling sering diabaikan. Ruangan, terutama kamar tidur, sering kali berada dalam kondisi tertutup rapat selama 6–8 jam saat kita tidur.
Saat kita bernapas dan berkeringat, kadar uap air di udara (kelembapan relatif) meningkat tajam. Jika suhu udara di dalam kamar lebih hangat daripada suhu permukaan dinding (terutama saat hujan atau malam hari), uap air tersebut akan berubah menjadi cair (mengembun) tepat di permukaan dinding.
Penggunaan AC yang tidak diimbangi dengan ventilasi saat siang hari membuat udara “basi” terus berputar. Jamur sangat menyukai area yang lembab, hangat, dan minim aliran udara segar.
Itulah sebabnya jamur sering muncul pertama kali di belakang lemari besar atau di sudut plafon area di mana udara sama sekali tidak bergerak.
Biasanya akan muncul bintik-bintik hitam kecil (jamur hitam) di belakang furnitur, sudut plafon, dan bingkai foto. Selain itu biasanya tembok ketika disentuh terasa basah dan berbau apek.
Dinding luar adalah pertahanan pertama rumah, jika pertahanan ini bocor, dinding dalam akan menanggung akibatnya.
Retak sekecil helai rambut pada plesteran luar sering dianggap sepele. Namun, secara teknis, retakan ini bertindak seperti sedotan yang menghisap air hujan ke dalam melalui gaya kapiler.
Jika dinding luar hanya dicat tanpa lapisan waterproofing yang memadai, atau plesterannya terlalu banyak campuran pasir daripada semen, dinding akan menjadi sangat porous (berpori). Saat hujan lebat, dinding menyerap air layaknya spons dan perlahan air tersebut bermigrasi menuju dinding bagian dalam.
Hal ini ditandai dengan munculnya noda di tengah dinding atau pada area tertentu yang berbentuk seperti pulau dan akan makin besar setelah turun hujan deras.Biasanya disebabkan oleh retak rambut pada bagian luar. Jika noda muncul di sekitar kusen pintu atau jendela, kemungkinan terdapat celah pada sealant kusen.
Permasalahan rising damp merupakan masalah struktural yang paling sulit ditangani jika sudah terjadi, karena sumbernya berasal dari bawah bangunan.
Secara teknis, di atas fondasi harus ada lapisan kedap air (biasanya disebut sloof trasram dengan campuran semen yang sangat kuat). Jika lapisan ini pecah, tidak ada, atau posisi tanah di luar rumah lebih tinggi dari lapisan ini, air tanah akan naik melalui pori-pori bata.
Tanda khas rising damp adalah kelembapan yang hanya muncul di bagian bawah dinding, biasanya setinggi 1 meter dari lantai, membentuk pola bergelombang atau membuat cat mengelupas di area kaki dinding.
Jika di dekat lantai banyak cat yang mengelupas dan muncul serbuk putih seperti garam (efflorescence), dan kayu parket atau lemari di area bawah mulai melapuk juga merupakan tanda yang muncul ketika terjadi rising damp.
Sering kali, masalah lembab adalah kesalahan sejak saat proses pembangunan awal. Penggunaan semen biasa yang dicampur pasir secara manual di lokasi sering kali memiliki perbandingan yang tidak konsisten karena sistem “kira-kira”. Jika pasir yang digunakan terlalu banyak atau mengandung lumpur, hasil acian akan memiliki pori-pori besar.
Acian yang berpori besar memudahkan uap air masuk dan menetap di dalam struktur dinding. Material modern seperti semen mortar instan dirancang dengan kepadatan tinggi untuk menutup celah mikroskopis.
Sering terjadi acian dilakukan saat plesteran belum benar-benar kering sempurna (masih mengandung uap air). Akibatnya, air terperangkap di bawah lapisan cat dan menciptakan kelembapan abadi di dalam dinding.
Tanda yang muncul biasanya dinding memiliki guratan atau retak halus dengan jumlah banyak seperti jaring laba-laba. Biasanya daerah sekitarnya menjadi lebih lembab dan berwarna gelap. Ketika diketuk, suaranya juga terasa agak kosong atau kopong dan bagian acian mudah rontok.
Dinding yang lembab dan berjamur bukanlah masalah yang muncul tanpa sebab, melainkan hasil dari kegagalan struktur dalam membendung air. Baik itu dipicu oleh penetrasi air hujan melalui retak rambut pada dinding luar, fenomena rising damp di mana air tanah merayap naik melalui fondasi, maupun kondensasi akibat uap air yang terperangkap dalam ruangan. Semua hal tersebut bermuara pada satu masalah, yaitu adanya celah mikroskopis yang membiarkan kelembapan menetap.
Faktor yang sering kali luput dari pengamatan adalah peran kualitas material acian yang terlalu berpori besar, yang justru bertindak layaknya spons bagi kelembapan udara. Penggunaan semen konvensional dengan campuran manual yang tidak presisi sering kali menghasilkan lapisan dinding yang tidak padat, sehingga menjadi tempat persembunyian ideal bagi spora jamur.
Hubungi kami