Kejadian granit meledak atau popping sering terjadi secara tiba-tiba. Meskipun granit tergolong dalam material kuat dan mewah namun tetap rentan untuk popping. Hal ini bisa terjadi karena kegagalan sistem ketika pemasangan. Tentunya hal ini bisa membahayakan penghuni bangunan dan tentunya akan mengeluarkan biaya renovasi yang cukup besar.
Penyebab paling umum adalah penggunaan semen biasa sebagai perekat. Berbeda dengan keramik, granit memiliki pori-pori yang sangat kecil dengan daya serap air di bawah 0,5%.
Semen konvensional tidak mampu mencengkeram permukaan granit dengan kuat karena partikelnya terlalu besar untuk masuk ke pori-pori tersebut. Seiring waktu, ikatan antara semen dan granit akan melemah, mengering, dan akhirnya terlepas.
Penggunaan semen instan (mortar) yang mengandung polimer tinggi adalah solusi wajib untuk menjamin daya rekat yang permanen. Produk yang direkomendasikan menggunakan ECO-475 Perekat Granit Ukuran Besar terutama jika ukuran granit lebih dari 60x60cm. ECO-475 dapat digunakan untuk perekat pada granit dengan maksimal granit berukuran 120x120cm.
Baca Juga 4 Perbedaan Semen Mortar dan Konvensional
Lantai merupakan elemen bangunan yang secara konstan mengalami proses pemuaian saat cuaca panas dan penyusutan saat suhu dingin. Jika granit dipasang dengan nat yang terlalu rapat tanpa celah yang cukup, granit tidak memiliki ruang untuk bergerak.
Saat suhu meningkat drastis, kepingan granit yang memuai akan saling beradu satu sama lain. Tekanan horizontal yang masif ini akhirnya memaksa kepingan granit mencari jalan keluar dengan cara terangkat ke atas secara mendadak. Inilah pentingnya penggunaan tile spacer untuk memastikan lebar nat yang konsisten sebagai ruang kompensasi muai-susut.
Banyak pemasangan granit dilakukan terburu-buru di atas lantai beton yang baru dicor. Secara teknis, beton memerlukan waktu minimal 28 hari untuk mencapai tahap kurasi sempurna dan berhenti menyusut secara struktural. Jika granit dipasang di atas beton yang masih muda, proses penyusutan beton akan menarik lapisan perekat di atasnya. Hal ini menciptakan tegangan tarik yang sangat kuat yang memicu lepasnya granit dari dudukannya.
Kesalahan teknik oleh tenaga pasang, seperti metode totol (hanya menaruh adukan di tengah kepingan), menyisakan banyak rongga udara di bawah granit. Saat cuaca panas, udara yang terjebak di rongga tersebut akan memuai dan memberikan tekanan balik ke arah atas. Tanpa adanya full bedding atau hamparan semen yang merata, granit tidak memiliki tumpuan yang solid untuk menahan tekanan tersebut, sehingga memicu fenomena popping.
Pastikan permukaan lantai beton sudah rata, bersih dari debu, minyak, dan cat. Jika beton baru saja dicor, pastikan sudah melewati masa kurasi minimal 28 hari. Gunakan waterpass untuk mengecek kerataan; jika ada bagian yang sangat cekung atau cembung, lakukan perataan (screeding) terlebih dahulu.
Jangan gunakan semen biasa. Gunakan semen instan (mortar) khusus granit. Granit memiliki pori-pori sangat kecil, sehingga membutuhkan partikel mortar yang sangat halus dan mengandung polimer agar bisa mencengkeram permukaan granit dengan maksimal. Rekomendasi perekat menggunakan ECO-475 Perekat Granit Ukuran Besar.
Aduk ECO-475 dengan air menggunakan hand mixer elektrik berkecepatan rendah. Pastikan konsistensi adonan seperti pasta (tidak terlalu cair dan tidak terlalu kering). Diamkan adukan selama 5 menit agar aditif kimia bereaksi, lalu aduk kembali sebentar sebelum digunakan.
Baca Juga: Apa Itu Mortar? Kenali 5 Ciri dan Penggunaanya
Gunakan roskam bergerigi (notched trowel) berukuran minimal 10×10 mm.
Ini adalah langkah paling krusial untuk mencegah popping. Oleskan selapis tipis mortar (sekitar 1–2 mm) di seluruh permukaan belakang kepingan granit sebelum ditempelkan ke lantai. Teknik double bonding ini menjamin 100% area granit menempel sempurna pada perekat dan menutup semua kemungkinan adanya rongga udara.
Letakkan granit di atas mortar yang sudah diaplikasikan. Tekan perlahan dan ketuk menggunakan palu karet dari tengah ke arah luar. Sangat disarankan menggunakan Tile Leveling System (Klip & Wedge) untuk memastikan tidak ada ujung granit yang lebih tinggi dari yang lain (lippage) dan menjaga posisi granit agar tidak bergeser saat semen mengering.
Gunakan tile spacer untuk menjaga jarak nat minimal 2–3 mm. Jangan pernah memasang granit tanpa nat (adu manis/sangat rapat), karena saat suhu panas, granit membutuhkan ruang untuk memuai. Tanpa celah nat, granit yang memuai akan saling beradu dan terangkat (popping).
Langkah 8: Masa Tunggu dan Grouting
Biarkan lantai mengering selama minimal 24 jam sebelum diinjak atau diisi nat. Gunakan pengisi nat khusus yang fleksibel, ECO 435 Pengisi Nat. Setelah nat diisi, biarkan seluruh sistem istirahat selama 3–7 hari sebelum lantai mulai dibebani furnitur berat.

Mencegah granit popping jauh lebih murah daripada memperbaikinya. Dengan memastikan penggunaan mortar berkualitas tinggi, memberikan ruang nat yang cukup, dan memastikan teknik full bedding, sehingga tidak ada kekhawatiran lantai granit berisiko meledak.
Dapatkan produk ECO-475 Perekat Keramik Area Terendam dan produk ECO Mortar lainnya di toko bangunan terdekat atau klik di sini
Hubungi kami