Plesteran kopong tidak selalu bisa diselesaikan hanya dengan menutup permukaan yang rusak. Ketika lapisan plester sudah kehilangan ikatan dengan dinding, menambahkan material baru di atas bagian yang masih kopong tidak menyelesaikan sumber masalah.
Karena itu, langkah pertama dalam cara mengatasi plesteran kopong adalah mengetahui seberapa luas dan parah area yang bermasalah, kemudian menentukan apakah plester perlu dibongkar dan dikerjakan ulang.
Pada kondisi tertentu, perbaikan yang benar justru dimulai dengan membongkar bagian yang terlihat masih cukup baik.
Jangan langsung menambal atau mengaci permukaan.
Lakukan pemeriksaan terlebih dahulu untuk mengetahui:
Lakukan pemeriksaan pada area yang dicurigai menggunakan metode ketukan.
Perhatikan perbedaan suara antara area yang solid dan area yang terdengar lebih kosong.
Pemeriksaan sebaiknya tidak hanya dilakukan tepat pada titik yang terlihat rusak. Perluas pemeriksaan ke area di sekitarnya untuk mengetahui batas bagian yang kehilangan ikatan.
Setelah menemukan area yang bermasalah, tandai batasnya.
Langkah ini penting agar pekerjaan pembongkaran tidak dilakukan secara acak. Area yang perlu dibongkar sebaiknya mencakup bagian plester yang benar-benar tidak memiliki ikatan kuat.
Setelah sebagian plester dibuka, lihat kondisi permukaan dinding di bawahnya.
Periksa apakah substrat:
Jika sumber masalah berasal dari rembesan atau kelembapan, akar masalah tersebut perlu ditangani terlebih dahulu sebelum melakukan plester ulang.
Tidak semua kondisi dinding membutuhkan pembongkaran dalam skala yang sama.
Namun, pembongkaran menjadi langkah yang lebih tepat ketika:
Semakin luas bagian yang tidak menempel, semakin besar risiko plester terlepas.
Retak yang disertai bagian plester yang mudah terlepas menunjukkan bahwa ikatan lapisan tersebut sudah bermasalah.
Bila pemeriksaan menunjukkan banyak area kosong, menambal titik tertentu saja berpotensi meninggalkan bagian bermasalah di sekitarnya.
Jika plester bisa dilepaskan dengan relatif mudah, lapisan tersebut tidak layak dijadikan dasar untuk finishing baru.
ECO Mortar juga membahas pendekatan perbaikan berdasarkan tingkat kerusakan dinding, termasuk kondisi plester retak atau kopong yang membutuhkan pembongkaran pada area bermasalah sebelum dilakukan pekerjaan baru.
Setelah area bermasalah ditentukan, lakukan perbaikan secara bertahap.
Gunakan alat yang sesuai untuk membongkar lapisan yang sudah kehilangan ikatan.
Jangan berhenti hanya karena bagian permukaan sudah terlihat rata. Pastikan bagian yang tersisa benar-benar solid dan tidak lagi menghasilkan indikasi kopong.
Tujuannya adalah menciptakan dasar yang cukup kuat untuk menerima plester baru.
Setelah lapisan yang rusak dibongkar, bersihkan seluruh permukaan.
Hilangkan:
Tahap persiapan permukaan sangat penting. Pada panduan aplikasi ECO-301 Plester Dinding, substrat harus dibersihkan dari debu, minyak, dan serpihan yang dapat mengurangi daya rekat.
Sebelum plester baru diaplikasikan, permukaan perlu dibasahi dengan air bersih hingga lembap.
Tujuannya agar substrat tidak langsung menyerap air dari adukan.
ECO-301 juga mencantumkan pembasahan permukaan sebagai bagian dari tahap persiapan sebelum aplikasi.
Untuk pekerjaan perbaikan, gunakan material dengan komposisi yang konsisten.
Salah satu pilihan yang dapat digunakan adalah ECO-301 Plester Dinding, yang merupakan semen instan untuk plester dinding bata ringan dengan komposisi semen, pasir silika pilihan, filler, dan crosslinking polymer.
Penggunaan mortar instan membantu mengurangi ketergantungan pada proses penakaran material secara manual.
Aplikasikan adukan secara merata pada substrat yang sudah dipersiapkan.
Untuk ECO-301, produk dicampurkan dengan air sekitar 8 liter untuk setiap sak 40 kg, kemudian diaduk hingga homogen. Aplikasi dilakukan menggunakan roskam dan diratakan dengan jidar.
Gunakan teknik aplikasi yang konsisten agar tidak terbentuk bagian yang terlalu tipis atau terlalu tebal.
Kepalaan membantu menentukan bidang dan ketebalan plester sehingga permukaan baru tidak bergelombang.
Teknik ini juga memudahkan proses perataan menggunakan jidar. Kepalaan sebagai panduan penting untuk menjaga kerataan dan ketebalan bidang plester.
Setelah adukan diaplikasikan, ratakan permukaan dengan jidar.
Periksa kembali bidang dari berbagai arah untuk memastikan tidak terdapat cekungan atau tonjolan.
Untuk ECO-301 Plester Dinding, ketebalan plester yang dianjurkan adalah sekitar 10 mm, dengan daya sebar sekitar 2,1 m² per sak 40 kg pada ketebalan 10 mm.
Jangan terburu-buru menutup plester baru dengan lapisan finishing.
Berikan waktu yang cukup agar material mengalami proses pengerasan sebelum dilanjutkan ke tahap berikutnya.
Ini merupakan salah satu pertanyaan yang paling sering muncul.
Jawabannya: tidak selalu.
Apabila bagian yang ditambal masih berada di atas plester yang kopong, masalah ikatan tidak benar-benar diperbaiki.
Lapisan baru tetap bergantung pada lapisan lama yang sudah tidak solid.
Karena itu, untuk area yang memang sudah kehilangan ikatan, pendekatan yang lebih tepat adalah:
deteksi → bongkar → bersihkan → persiapkan substrat → plester ulang.
Memperbaiki kerusakan saja belum cukup. Penyebab awalnya juga perlu diatasi.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan:
Untuk membuat plester yang kuat penggunaan peralatan, pengendalian ketebalan, serta teknik aplikasi untuk menghasilkan plester yang lebih kuat.
Untuk pekerjaan plester ulang pada area yang sudah diperbaiki, ECO-301 Plester Dinding dapat menjadi salah satu pilihan material.
ECO-301 menggunakan semen, pasir silika pilihan, filler, dan crosslinking polymer. Produk ini dirancang untuk menghasilkan plester dengan daya rekat kuat dan konsistensi campuran yang lebih terkontrol.
Panduan aplikasinya meliputi pembersihan substrat, pemasangan kepalaan, pembasahan permukaan, pencampuran homogen, aplikasi menggunakan roskam, dan perataan menggunakan jidar.
Cara mengatasi plesteran kopong tidak cukup dengan menutup permukaannya. Ketika plester sudah kehilangan ikatan dengan substrat, area tersebut perlu diperiksa, dibongkar sampai mencapai bagian yang solid, kemudian dibersihkan dan diplester ulang.
Perbaikan juga perlu dibarengi dengan evaluasi terhadap penyebab awal, seperti kondisi permukaan, kelembapan substrat, ketebalan plester, konsistensi adukan, dan teknik aplikasi.
Setelah mengetahui cara memperbaiki plesteran kopong, langkah berikutnya adalah mengetahui bagaimana mencegah masalah yang sama sejak awal.
Hubungi kami